ADAKAH TEMAN KEKAL DI DUNIA INI?
Aku butuh teman, aku butuh sahabat sehidup semati. Yang akan menemaniku seumur hidupku. Yang akan menemaniku melangkah melewati segala bahaya dan rintangan. Maupun menghabiskan kebahagiaan bersama. Yang akan mampu membuat kita saling berbagi tawa maupun duka, mimpi dan cinta, harapan, tujuan, pengalaman dan segalanya yang membuat hidup ini berarti. Apa itu sama saja dengan kekasih?. Semua orang bilang yang aku butuhkan seakan - akan merujuk ke satu titik bernama “kekasih”, entahlah kenapa hatiku selalu ragu untuk menyetujui apa yang di putuskan oleh pikiranku sendiri. Yang aku lihat kekasih adalah kata yang selalu didorong oleh sebuah tuntutan. Tuntutan cinta, tuntutan waktu, tuntutan menghargai yang hanya mementingkan ego dan masih banyak lagi hal – hal yang berkelebat di benak ini. Lalu di manakah letak kepamrihan yang kucari?. Di mana aku bisa menemukan kepamrihan yang tulus seperti layaknya aku temukan di dalam diri seorang teman. Maka aku putuskan teman dan kekasih adalah berbeda, jika aku sudah memiliki teman sejati aku akan tetap mencari kekasih, jika aku sudah memiliki kekasih aku akan tetap menyapa temanku di waktu senggang.
Tadinya kita tidak saling kenal, namun karena satu keadaan yang sama membuat kita saling berbagi tanpa mengharap suatu balasan apapun. Sayangnya teman tidak harus selalu ada di samping kita. Teman bisa kita temukan di manapun. Teman sekamar, teman sekossan, teman satu bis, teman sekelas, teman dengan satu tujuan yang sama, teman bisnis, teman kantor mereka semua hanyalah teman sesaat. Teman dengan satu nasib yang sama, keadaan yang sama, dan penderitaan yang sama. Mereka bisa menjadi sangat berarti di waktu yang hanya sesaat itu, meski hanya bertemu dalam satu ruang lingkup yang sempit lalu bertemu sehari sekali, sepekan sekali atau hanya dalam kurun beberapa bulan lalu harus berpisah.
Di atas semua perpisahan ini selalu ada kata “kembali” yang kita simpan dan tumbuh menjadi harapan agar bisa bertemu kembali. Suatu saat, suatu hari di waktu kapanpun ada keinginan untuk berjumpa demi agar dapat mengetahui keadaan selanjutnya. Meski momen pertemuan itu sudah berakhir, meskipun sudah pernah memutuskan untuk berpisah namun tali hubungan itu tak mampu terputus oleh jarak, waktu, dan nasib kecuali kematian. Jauh sekali jika aku bandingkan dengan kata “kekasih” sekali pergi, ia hanya menjadi masa lalu. Sekali berpisah berakhir sudah sebuah hubungan. Tidak kekal sama sekali. Sekali ia pergi, hanya tinggal aku sendiri.
Satu – satunya hal yang aku benci di dunia ini hanyalah perpisahan, aku benci untuk mengucapkan selamat tinggal. Kenapa harus ada perpisahan? Sakitnya harus di pendam sendiri, menumbuhkan kesunyian yang mengintai untuk membunuhmu perlahan – lahan. Merajam dalam diam, mengila di atas kesadaran. Sunyi. Sepi. Dan kau kehabisan cara untuk membunuh kengerian itu hingga segala sinar terlahap olehnya maka gelaplah hidupmu. Maka dari itu kau dan aku butuh teman atau sahabat!
Ketika dunia sudah merubah pandangan sahabat kedalam bentuk yang fleksibel, maka lahirlah seorang teman tumbuh dari orang terdekat, siapapun dan kapanpun. Contohnya ayah, ibu, kakek seluruh anggota keluarga kita tiba – tiba mampu berperan sebagai teman atau sahabat kita. Tiba – tiba lahir juga di dalam diri seorang kekasih, orang yang kita kasihi dan mengasihi kita mampu berperan sebagai sahabat maka jadilah ia sahabat sehidup semati. Meskipun sangat dekat dan selalu kita jumpai bahkan kemungkinan untuk berpisah sangat tipis. Satu hal yang mereka lupa, kematian. Masih ada satu hal yang terlewat bahwa ajal mampu memisahkan kita kapanpun. Ajal.
Aku pernah merasa benar – benar ingin mati jika harus hidup dalam kegelapan. Merasa sendiri, di tinggalkan orang yang kita cintai lagi dan lagi. Hidupku gelap, sendiri, sunyi. Bukankah sama halnya kita sudah mati? Ya, jiwaku yang mati, raga ini kosong. Sedangkan ujian masih bergelayut menahan untuk melangkah maju. Keadaan masih sama, jaraknya hanya tinggal sejengkal lagi untuk menemukan pintu keluar. Sialnya tak ada lagi orang yang paham dengan apa yang kau alami. Tak ingin tahu bahkan tak peduli. Mungkin mereka lelah, mereka bosan tak pernah berpikir seberapa besar kebosanan mereka, lebih besar kebosananku lebih menyakitkan kelelahanku. Jika boleh memilih, aku lebih memilih mati atau tidak pernah lahir samasekali. Lalu aku menyadari masih ada Tuhan. Aku berteriak “Tuhan aku butuh teman, sekiranya Engkau tahu hanya Engkaulah yang tersisa di hidupku. Maukah Engkau menjadi temanku? Bersahabat denganku? Maka temuilah aku. Aku ingin bertemu. Aku takut sendirian, aku ingin menemuimu. Aku ingin menemuimu. Aku ingin menemuimu!.” Aku terisak meminta ajalku sendiri.
Siang itu ketika semua orang di dalam sekaratnya masing – masing. Aku bertemu dengan seorang wanita cantik, yang semerbaknya sangat harum. Sangat indah di pandang, sangat penyantun, sangat menghormatiku seakan – akan akulah ratunya. Bagaimana aku harus menggambarkannya sulit untuk menjelaskan detail keindahan yang sangat mengagumkan. Ia sudah menghantarku berdiri di sebuah tebing yang memisahkan kobaran api yang panas dan mengerikan dengan alam hijau penuh warna menyejukkan di hadapanku. Aku berdiri di sampingnya memandangi kebahagian di depan mata, wanita itu menghalangiku untuk menoleh ke kobaran api di belakang.
“apakah penderitaanku sudah berakhir?”
“tidak aku hanya ingin menunjukkanmu alam indah ini, karena Tuhan sudah menjajikan keindahan ini untukmu. Dan janganlah sesekali melihat kebelakang, karena sekali berbalik kau bisa terjerumus”
“engkau sangat cantik dan harum, apa kau malaikat yang di utus Tuhan untuk mengantarku kesana?‘’
‘’Bukan, aku adalah AMALmu. Tetapi aku bisa saja menghantarkanmu ke alam sana jika kau mau”
“tetapi aku butuh sahabat, percuma saja aku hidup di alam seindah itu sendirian”
“aku telah menemanimu sejak kau lahir hingga kematian. Bahkan akan selalu menemani langkahmu melewati perjalananmu setelah kematian hingga ke kedua alam ini. Akulah teman kekalmu”
“lalu jika kita bertemu lagi nanti apa kau akan tetap cantik dan harum seperti ini?”
“tidak, tergantung perbuatanmu. Aku adalah hasil perbuatanmu semasa hidup. Percantiklah diriku dengan perbuatan baik di dunia. Maka jika kau mengotoriku dengan perbuatan buruk di dunia aku akan seperti monster yang berbau busuk dan menghantarkanmu ke api neraka”
Detik berikutnya aku terbangun dari bius total yang membuatku tak sadar selama satu jam pasca operasi. Tuhanku sudah memberikanku sahabat sejati yang tidak pernah aku sadari keberadaannya. Ia ada sejak aku lahir dan akan kekal hingga akhirat. Dia adalah amal yakni teman kekal setiap insan, maka setelah detik itu aku berjanji akan aku percantik ia dengan perbuatan baik. Ia kasat hanya bisa kita rasakan, namun keharumannmu membuatku rindu untuk berjumpa kembali wahai amal.
Komentar
Posting Komentar