BAGIAN 1
Ini bukan kisah tentang Romeo & Juliet atau Laila & Qais. Meski sama menderitanya mempertahankan cinta, tapi aku yakin ini lebih tragis jika di bandingkan kedua kisah itu.
Ini adalah kisah tentang seorang gadis yang percaya bahwa kekasihnya akan datang menjemputnya dari jeruji yang mereka sebut adalah keluarga, atau menyelamatkan dirinya dari alam rimba yang mereka sebut pelarian.
Kini gadis itu tengah berdiri dalam kegelapan lorong trotoar yang didereti pepohonan di sekitar trotoar. Malam ini hatinya teriris pilu, di bawah derasnya curahan hujan yang menghujam tubuhnya bagaikan lontaran ribuan tombak.
Hujan malam ini begitu lebat membasahi semua pepohonan, sepanjang jalan raya, semua rumah, semua gedung di sekitar trotoar, terutama jas hujan berwarna hitam yang dikenakan Smellie, gadis yang saat ini masih berdiri terpaku memandangi rumah besar di seberang jalan dari tempat ia berdiri.
Ia menangis. Bukan! Bukan menangis mengalirkan butiran bening melalui matanya, tetapi hatinya. Hatinya yang menangis menderu tanpa tahu harus kepada siapa ia mengadu. Ia lelah dan lemas.Tubuhnya goyah atas pertempuran yang berhasil ia menangkan yang dipimpinnya, berharap ia dapat melepas kelelahannya di rumah itu. Terlelap dalam dekapan cinta, sehangat dekapan almarhum ibundanya. Berharap kesudahan akan menyapa setelah ia terbangun dari kehangatan yang semu.
Malam ini hatinya begitu sakit, ia tak tahan membendung bulir airmatanya. Namun derasnya hujan malam ini sudah cukup mewakili apa yang ia rasakan.
Rumah itu begitu megah, kini seluruh jendela besar terbuka lebar. Tirainya sengaja diikat ke setiap sudut jendela masing - masing karena pesta besar masih berlangsung. Smellie tidak dapat menebak acara apa yang sedang di adakan di rumah itu. Meski benci, meski geram ia merasa ada perasaan sedikit menyelusup ke batinnya bahwa ia ingin pulang. Entah kemana Smellie harus pulang, ia sendiri bingung. Yang pasti ia merindukan rumah hangat yang dulu mampu melindunginya dari segala ketakutan.
Rumah di seberangnya kini di penuhi khalayak tamu - tamu penting. Dengan lampu yang menempel di setiap sudut dinding, dan lampu hias besar yang menjulur anggun menerangi meja - meja besar penuh dengan makanan lezat, kue - kue hangat dan anggur yang mengalir di atas tumpukan gelas. Aromanya tercium hingga trotoar tempat Smellie berdiri. Aroma kesombongan dan angkuh akan tetapi begitu mengundang selera setiap tamu yang datang.
Berbeda dengan malam di trotoar tempat ia berdiri. Sangat dingin, gelap mencekam, sepi. Hanya ada suara rintikan hujan. Menghantam jas hujannya hingga berisik. Lambat laun rasanya semakin menghajar tubuh ringkihnya. Lebih sakit dari hantaman ribuan bogem yang mendarat begitu saja. Meski begitu ia tak peduli lagi dengan segala derita di hidupnya. Karena tujuan terakhir hidupnya sejak hari pertama ia melarikan diri hingga saat ini, hanyalah mati.
"Smellie!, sedang apa kau di situ?, " tanya teman sebayanya, Eris seorang gadis seumuran dengan Smellie berambut coklat lurus diikat ke samping kiri, berlari menghampiri Smellie dari belakang. Eris terlanjur basah kuyup karena mencari Smellie sepanjang jalan.
"Eris, bagaimana kau tau aku ada di sini?"
"A, aku.., aku suh-hah..! Aku sudah mencarimu sejak tadii!!!" teriak Eris sambil melotot ke arah kiri wajah Smellie. Eris berhenti sejenak, napasnya terpenggal - penggal. "Ayo kita pulang. Pengawas asrama pasti marah mendapati kita tidak ada di kamar."
"Kau duluan saja. Aku masih ingin di sini." jawab Smellie sambil memalingkan wajahnya dan kembali menatap ke arah rumah besar itu.
"Ooh. Rupanya kau mau makan kue, hahaha! Ayo kita kesana." ucap Eris sambil mendorong tubuh ringkih Smellie.
"Ah tidak. Aku tidak suka kue, " ucap Smellie sambil melepas tangan Eris.
"Lalu mau kau apa? Bermimpi jadi anak konglomerat? " tanya Eris penuh ekspresi.
"Tidak Eris. Aku hanya heran kenapa tamu - tamu pesta itu satu persatu mengunjungi kamar lantai 2 paling kanan secara bergantian. Apa hal ini tidak terlihat aneh bagimu?"
"Hahaha. Smellie, Smellie. Itumah urusan orang kaya. Kita tidak akan mengerti kebiasaan konyol mereka." Eris masih gelagapan menahan tawa. Ia berpikir segitu bodohnya pertanyaan Smellie. "Sudahlah, kalau kau tidak ingin temani aku mencuri lebih baik kita segera pulang agar tidak kehabisan roti panggang." Eris beranjak menarik Smellie menuju kegelapan trotoar jalan pulang ke perkemahan tempur dan asrama mereka.
Yakni sebuah asrama anak jalanan yang berhasil diringsut petugas pemerintah hingga setiap sudut kota bersih dari anak jalanan yang terlantar dan memaksa mereka menjadi penerus tentara negara dengan kegiatan latihan keras untuk menggantikan tentara yang berguguran setiap tahunnya.
Mendengar kalimat Eris, Smellie jadi teringat roti panggang yang selalu di bagikan di asrama tempur sebagai makanan pokok. Hanya sebesar telapak tangan, rasanyapun hanya asin dan keras. Membuat setiap gigi lelah mengunyahnya. Smellie sudah bosan dengan roti keras itu yang lebih pantas disebut batu. Ia tidak ingin makan. Tak peduli jika harus kehabisan, tidak dapat jatahnya malam ini.
🍁🍁🍁
Bersambung..
Komentar
Posting Komentar