BAGIAN 1, LANJUTAN1
Di sebuah kamar megah dengan luas 6 x 8 m² terdapat seorang lelaki paruh baya terkapar sakit keras, hanya terbaring tak berdaya di atas king bednya. Seluruh keluarga terutama anak - anaknya terlihat sedih bahkan hampir berputus asa mengitari ranjang tersebut.
"Ayah sudah tidak tahan lagi anak - anakku, apapun yang terjadi nanti kalian harus tetap mencari Aires sampai ketemu," suara serak beliau terhenti. Napasnya tersendat lalu seorang remaja lelaki berusaha membenarkan posisi selang yang terhubung ke tabung oksigen penuh gelisah.
"Bahkan bila rumor mengatakan bahwa Aires sudah meninggal kalian harus temukan jazadnya, bawa di hadapanku. Sekalipun jika sudah di makamkan galilah makamnya untuk memastikan itu jazad Aires." Napas lelaki paruh baya kembali terpenggal - penggal karena sesak.
"Untuk kau Melda, " seorang wanita paruh baya mendekat ke sisi kanan king bed.
"Iya tuan kakanda." Melda menundukan kepalanya penuh hormat.
"Kau adalah satu - satunya adikku yang mengerti bagaimana keluarga ini dan setia hadir merintis bisnis keluarga ini sejak dari nol, aku mohon jika aku sudah tidak ada kau sudi menggantikan almarhumah ibunda anak - anakku. Kau tidak usah khawatir aku pasti akan memberimu bagaian dari hartaku."
Suara guntur di luar meledak bergemuruh menggetarkan setiap kaca, hujan di luar masih begitu lebat dan dingin. Seorang anak kecil laki - laki berumur 5 tahun terisak sesenggukan lalu menenggelamkan wajahnya ke pelukan Melda, yakni bibi mereka yang sudah lama tinggal di rumah itu. Entah karena si kecil sudah mengerti situasi ayahnya yang sedang di ujung tanduk atau takut karena guntur yang bergemuruh. Disusul tangisan kakak - kakak dari si kecil karena tidak kuat mendengar ayah mereka berwasiat.
Tuan Lerman yang kini begitu tak berdaya merasa sudah tidak tahan lagi. Napasnya sakit menusuk bahkan menjerat namun yang ada di benak beliau hanyalah Aires, anak perempuan satu - satunya di keluarga ini yang sudah dua tahun menghilang.
Aires adalah anak ke tiga beliau. Anak pertamanya Kin adalah yang paling tegas dalam hal apapun. Segala urusan di keluarganya harus di bawah peraturannnya. Ia memang pembesar bisnis keluarga Lerman sekaligus wali adik - adiknya setelah Tuan Lerman sakit keras selama dua tahun. Yang ke dua Kallin ialah yang paling bijak untuk menengahi setiap pertikaian yang disebabkan keputusan Kin, umurnya berkisar 25 tahun lebih muda dari Kin. Namun kini Kallin masih fokus di kuliah magisternya di London. Yang ke tiga adalah Aires adik perempuan satu - satunya yang masih dalam pencarian. Yang terakhir Alex si bungsu masih duduk di sekolah dasar grade A.
Tuan Lerman hampir menghembuskan napas terakhir dengan kepasrahan yang sudah bulat, hingga seseorang mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Tuan, "
"Masuklah Veros," perintah Kin.
Seorang lelaki memasuki kamar Tn Lerman. Tubuhnya gagah dan tegap, berjas hitam dengan dasi elegan. Membuat kharismatiknya terpancar menciptakan kemistri sempurna. Ia mendapati anak - anak beliau sedang terisak mengitari sebuah ranjang besar. Veros merasa tidak yakin untuk menyampaikan kabar gembira ini. Tetapi demi keselamatan Tn Lerman, akhirnya ia memberanikan diri menghadap Tn Lerman dengan lancang.
"Tuan, saya membawa kabar gembira. Di sayembara malam ini ada lima orang yang mendapatkan jejak nona Aires dengan bukti kuat." ucap Veros penuh hati - hati. "Tuan harus bertahan, kemungkinan besar nona Aires masih hidup," lanjut Veros.
"Aires.. ," Tn Lerman melirih terharu. Namun detak jantungnya masih melemah dan seakan - akan hendak berhenti. Malam itu seluruh kota masih terguyur hujan lebat hingga larut. Tn Lerman akhirnya menemukan secercah harapan, beliau tetap berjuang untuk bertahan.
Di sebuah jalanan kota, di penuhi kendaraan yang padat merayap terjebak kecelakaan, karena hujan malam ini proses evakuasi jadi terhambat. Detik berikutnya sang dokter pribadi berhasil lolos dari jebakan macet ibu kota. Sang dokter telah tiba tepat waktu membawa peralatan medis tercanggih di zaman itu, beserta 3 orang suster yang selalu setia menyertainya ketika bertugas.
Kin merasa lega, semuanya belum terlambat. Keadaan Tn Lerman membaik, namun kondisi masih lemah. Dokter memaksa semua orang meninggalkan beliau sendirian memberi waktu agar beliau beristirahat. Kallin tiba - tiba geram. Amarah dan kekecewaan yang selama ini berusaha ia sembunyikan kini meledak. Dengan sigap Kallin merangsek Kin keluar dari kamar ayah mereka seperti ingin membunuh Kin. Sejurus kemudian mereka saling beradu, Kin tergeletak lemah dengan darah mengalir di rongga hidung. Melda akhirnya kembali dari ujung lorong setelah menidurkan Alex.
"Kallin! Apa yang telah kau lakukan, huh!" tegas Melda. Ia berusaha sekuat tenaga menahan Kallin yang terlanjur dikuasai emosi. Sedangkan Kin masih tergeletak mengernyit pasrah menahan kesakitan di rahang pipinya yang terhantam bogem Kallin. Setelah emosi Kallin mereda, Melda membantu Kin untuk bangun. Kin memang merasa bersalah, meski begitu Melda tetap menyalahkan Kallin dan membela Kin ponakan kesayangannya penuh antusias. Kin lama - lama muak dengan ocehan bibi Melda, lalu ia pergi berlalu mengabaikan pembelaan wanita paruh baya itu.
"Kin!. Mau kemana?, bibi belum selesai bicara!." teriak Melda.
"Dengar yah Kallin! Asal kau tahu, seluruh harta Tn Lerman itu berkembang berkat kegigihan Kin yang nurut sama omongan bibi. Jadi mau tidak mau, kau harus patuh dengan Kin atau kau akan sebatangkara seperti Aires di luar sana." tegas Melda penuh ambisi, dan berlalu meninggalkan Kin sendirian menuju ballroom di lantai dasar. Acara sayembara diakhiri dengan makan besar para tamu dari berbagai kalangan. Semua yang sudah terpilih dengan bukti - bukti diminta untuk menandatangani kerjasama pencarian Aires, dengan upah yang menggiurkan. Kin memimpin pesta tersebut penuh wibawa tinggi namun terlihat bijaksana.
🍁🍁🍁
Bersambung..
Komentar
Posting Komentar