BAGIAN 1, LANJUTAN 2
"Namaku Travor, selaku Komandan Perang sektor 1, 2 dan 3. Sekaligus presiden tentara di negri ini. Selamat untuk kalian para kandidat tempur yang lulus di uji War Pasifik tahun lalu," sang komandan tersenyum, setelah memulai sambutannya di upacara besar Great Warrior dengan penuh wibawa di atas panggung kecil yang teronggok rapi di depan barisan ribuan tentara.
Di hadapannya sudah berbaris para tentara tingkat warrior yang terpilih dari berbagai pertempuran. Termasuk Smellie, kurang lebih ada 3003 tentara pilihan yang berbaris di lapangan gersang itu, meskipun masih pagi namun udara begitu kering dengan pijakan tanah yang retak - retak. 1/3 dari ribuan tentara itu merupakan tentara wanita sisanya adalah tentara laki - laki. Di antara sekian banyaknya tentara wanita, Smellie lah yang terbaik. Ia berdiri paling depan di antara barisan tentara wanita lainnya. Bahkan kemampuannya boleh di adukan dengan warrior senior sekalipun.
"Dari sekian banyaknya kandidat yang hadir di upacara besar ini, akan ada 3 warrior terbaik yang akan ditugaskan sebagai panglima" lanjut komandan. "Setiap panglima akan memimpin 1000 pasukan, dan yang telah disebut namanya silahkan maju ke podium dan berbaris di depanku untuk pelantikan,"
"yang pertama adalah Ramos. Akan memimpin Pasukan Elang untuk di tugaskan di sektor 1. Silahkan pejuang Elang maju ke depan." Seorang lelaki berkisar umur 25an dengan tinggi badan 188 cm, bertubuh kekar maju dengan senyum terbangganya, diiringi sorakan girang pasukan lain dan tepuk tangan.
"Yang kedua Juan, akan memimpin Pasukan Singa. Akan ditugaskan di sektor 2, silahkan pejuang Singa maju kedepan," sama halnya dengan Ramos, Juan lelaki berbadan kekar dan nilai tambahan dari wajahnya yang tampan membuat hati setiap wanita terpikat.
Ketika ia maju ke depan seluruh pasukan bersorak riang terutama tentara - tentara wanita bahkan wanita lain yang hanya bertugas di dapur ikut keluar ketika nama Juan disebut melalui microphone. Smellie hanya kasihan melihat wanita - wanita itu yang terlanjur terpesona dengan ketampanan lelaki itu. Bahkan membuat mereka lupa bahwa nasib mereka yang membawa mereka sampai di sini hanya akan berujung, mati. Pertempuran demi pertempuran akan memaksa mereka terjun ke jurang kematian, mau tidak mau, dalam waktu dekat atau setahun kemudian.
Yang pasti hidup di perkemahan ini jangan harap akan memiliki masa depan, pikir smellie. Setidaknya itulah kenyataan pahit yang harus Smellie terima sejak hari pertama ia melarikan diri. Ia sudah pasti tidak akan mengalami masa depan, hanya itulah alasan Smellie yang mendorongnya untuk mendatangi perkemahan ini. Lalu apa gunanya mereka berlomba - lomba menarik perhatian demi menjadi pemenang hati sang Juan yang sok keren itu? Gumam Smellie dalam batin.
"Yang ketiga adalah Smellie, akan memimpin Pasukan Matahari. Akan di tugaskan di sektor terberat yaitu sektor 3. Silahkan pejuang Matahari maju kedepan." Seluruh khalayak hening sejenak. Smellie agak gugup dan tidak percaya namanya disebut. Ia ragu untuk maju. Semua mata mencari - cari sosok tentara wanita yang disebut namanya, mulut mereka menganga tak percaya. Mustahil. Pasti komandan sedang bergurau atau telinga mereka yang kurang berfungsi?.
"Apa aku mendengar nama Smellie tadi? " tanya tentara laki - laki kepada teman di samping kirinya.
"Iya aku juga mendengarnya, aku pikir hanya telingaku yang sedikit error, " celetuk yang lain.
Seluruh tentara berbisik tidak percaya dan bertanya - tanya yang mana. Lalu Smellie maju dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Ketika Smellie berbaris dengan calon panglima yang sudah terpilih Eris baru menyadari bahwa Smellie yang di maksud adalah teman sekamarnya.
"Ya, ya ampun! Sme.. Smellie?!?," Eris gugup tak percaya mulutnya seakan jatuh menggelinding di bawah kaki - kaki barisan tentara.
Ke tiga panglima yang sudah terpilih di lantik penuh khidmat, di pagi yang cukup cerah ini. Mentari pagi baru saja bertengger setengah tonggak. Namun panasnya cukup membuat peluh para peserta upacara mengalir deras. Setelah para panglima selesai membaca janji - janji dan sumpah panglima dengan kompak, sang komandan kembali melanjutkan sambutannya. Menjelaskan latar belakang setiap panglima mulai dari seluk beluk keluarga, perjalanannya hingga sampai ke perkemahan tempur. Bahkan peperangan apa saja yang berhasil di lalui bahkan meraih kemenangan yang dimana mereka bertiga sangat berperan dalam kemenangan di medan tempur tersebut. Sehingga di nobatkan sebagai warrior terbaik tahun ini.
🍁🍁🍁
Hari ini langit begitu biru, awan - awan putih terlihat tipis dan terang mengitari mentari yang berdiri tegak di atas kepala Aeon. Kelihatannya angin di langit berhembus cukup kecang sehingga mampu menggerus awan - awan jadi setipis ini, batin Aeon sambil mendongak menutupi matanya memandangi langit biru yang menyilaukan. Seperti sedang dalam posisi hormat menyaksikan bendera dikibarkan. Lumayan membuat gerah hanya dengan aktifitas kecil.
Musim panas. Ya, akhirnya liburan musim panas tahun ini telah tiba. Setelah bertahun - tahun berjibaku dengan studinya di bidang Ekonomi, Aeon kembali ke kota tempat ia bertemu dengan belahan jiwanya yang jarang sekali ia temui bahkan komunikasipun tidak pernah. Orang lain pasti menilai hubungan mereka mustahil masih terjalin atau menilai hubungan mereka begitu payah. Tapi Aeon memaklumi mereka, karena mereka mungkin belum mengerti bahwa jarak ruang maupun jarak waktu yang ada akan membiarkan rindu bergerak dan bertemu di waktu dan tempat yang tepat.
Ia tak peduli meskipun jika pada kenyataannya kekasihnya sudah milik orang lain. Lalu untuk siapa ia datang? Entahlah ia merasa bingung. Yang Aeon tahu ia hanya ingin mengikuti kata hatinya, hati kecilnya yang selalu mengarahkan kemana ia harus melangkah. Hati kecilnya yang selalu menuntunnnya untuk kembali.
Setiba di kota sang kekasih orang pertama yang dapat ia temui adalah sahabat - sahabatnya. Pertemuan mereka begitu hangat, suasana semakin cerah dengan semilir angin sore yang menyelimuti obrolan mereka. Sahabat - sahabatnya sangat bahagia mendengar kabar gembira Aeon bahwa ia akan wisuda.
Terlebih Aeon berhasil meraih cita - citanya untuk mendirikan perusahaan sendiri dan sudah tersebar di berbagai manca negara.
"Tak kusangka jadi Elmiree adalah produkmu kawan?"
"Yaa begitulah," air muka Aeon semakin bersemu merah.
"Jadi apa kau punya rencana lain setelah ini?," celetuk teman lainnya.
Aeon sangat girang menceritakan perjalanan sepeninggal dirinya dari kota itu. Hingga tiba saat sahabatnya menanyakan kabar kekasihnya. Sahabatnya terpaksa menceritakan kabar bahwa Aires telah menghilang setahun setelah kepergian Aeon. Aeon setengah tidak percaya, dan kebahagian yang mendorongnya untuk segera menjemput kekasihnya seketika sirna.
"Sejak kapan?," Aeon gelisah.
"Sekitar tiga tahun yang lalu." Vian sangat menyesal menyatakan kepahitan ini, namun ia tak punya pilihan lain. Semua ini demi kebaikan sahabatnya.
Aeon membenamkan wajahnya kedalam kedua telapak tangan. Air matanya mulai mengalir di barengi peluh yang berjatuhan. Ia rindu sekali dengan Aires. Pada kenyataannya sang putri yang selalu setia menunggu kedatangan Aeon di balik jendela kamarnya telah pergi. Pergi yang sangat jauh sampai bisa - bisanya ribuan kerabat keluarga Aires tidak mampu menemukan jejak Aires selama dua tahun.
"Aires.. ," Aeon terisak - isak sampai lelah. Ini adalah kali pertamanya menangis dalam hidupnya. Kerinduannya kepada sang kekasih selama bertahun - tahun kini harus melebur bersama debu. Kerinduannya sangat tak bernilai! Tak ada artinya! Kutuknya dalam hati.
Aires hilang? Kemana? Harus kemana ia mencari? Selamanya ia tak akan percaya sahabatnya yang mengatakan Aires kemungkinan telah meninggal. Kecuali jika ia benar - benar bertemu dengan jasad kekasihnya.
"Aires.. kekasihku," lirih Aeon berdiri terpaku di seberang rumah kekasihnya. Memandangi balkon di lantai dua dimana Aires selalu berdiri menunggu kedatangannya. Ia pasti akan sangat bahagia melihat kedatangan dirinya meski hanya mampu bertemu dari kejauhan, pikir Aeon. Ia ingat sekali ketika pertamakali ia bertemu Aires, hidupnya hanya sebatas kamar tidurnya. Dunia luarnya hanya sebatas balkon di depan kamarnya. Namun berkat balkon itulah Aires menemukan dunia yang sangat menakjubkan yang membuatnya merasa cukup untuk tidak berkeinginan lebih melihat dunia luar. Aeon, seluruh kehidupan dari segala penjuru mampu Aeon bawakan untuk Aires. Aeon adalah sumber kehidupan Aires. Melalui Aeon ia bisa tahu seluruh isi dunia.
Aeon seakan ingin meledak dan menendang apapun yang ada di sekitarnya. Hatinya sangat bergemuruh ia menyesal tak mampu mengalahkan ego keluarga Aires yang membuat cinta mereka sesulit ini.
"Aku bersumpah Aires, aku tidak akan berhenti mencarimu sampai kau aku temukan. Meskipun hingga aku menua dan mati!." tekad Aeon sambil memandangi kamar Aires sebelum ia harus pergi lagi meninggalkan kota.
Komentar
Posting Komentar