Langsung ke konten utama

Pangeran Bersarung

Aku ingat dulu ketika kita bertemu

Kita masih kecil belum mengerti apa - apa

Aku melihatmu sedang kamu tidak sadar

Lalu timbul sesuatu yang ingin aku pertanyakan

Saat itu dunia baik - baik saja

Sebelum kau menatapku dan tersenyum


Aku ingat dulu pertama kali melihatmu

Kau turun dari kereta besi dan terseret

Oleh tangan seorang malaikat dengan paksa

Bukan, sepertinya sepasang malaikat

Hari kedua aku melihatmu lagi

Kamu sendirian di pojok sebuah balkon

Mengingat tragedi di hari sebelumnya

Ada rasa kasihan sejak hari itu

Tahukah kamu, saat itu terlintas di benakku

Ingin sekali aku membelai wajahmu

Dan berkata, gapapa kamu gak sendirian

Kamu pasti bisa melewatinya

Aku mengerti ada beban berat di pundakmu

Mengingat sikap kasar orang tuamu

Saat pertama kali kamu datang

Aku pikir banyak yang sepertimu di sini

Bisa begitu mudah mengemban beban itu

Belajarlah dari mereka, ucapku dari batin


Sejak itu, dimana ada kamu aku datang

Dimana ada aku kamu datang

Sulit sekali untuk ku menghindar

Mungkin jika aku lari ke ujung dunia sekalipun

Di situ ada kamu yang sudah menunggu

Kita sering bertemu kita saling berpapasan

Kamu pun tersenyum lalu jantungku berdebar

Kita sering mencari jalan keluar dari keramaian

Namun setelah ada kesempatan untuk bertemu

Kita tidak pernah bicara bahkan menyapa


Lalu kamu menunggu, dan kamu datang

Lalu kamu datang, dan kamu pergi 

Begitu seterusnya dan suatu ketika

Kamu berbisik di tengah keramaian

Saat itu aku tidak sadar kepada siapa kamu bicara

Mustahil aku, sedangkan kita tidak saling kenal

Aku juga ingat, saat kau memanggilku "istriku"

Tanpa sadar ku jawab dalam hati "iya suamiku"

Sebuah doa yang ku ucap berulang - ulang

Lambat laun membuatku jadi berharap kepadamu


Ada suatu kesalahan yang membuatku janggal

Aku merasa ada banyak yang menginginkanmu

Tapi tidak mungkin aku salahkan 

Sikap ramahmu pada setiap orang

Merasa seperti di bodohi aku benci

Kamu mengajakku terbang lalu membantingku

Ke dasar bumi hingga aku sadar diri

Menjadi pecahan puing berkeping - keping dan berserakan

Penampilan mu yang kadang seperti preman

Membuatku menghindar karena takut

Bukan, mungkin karena sakit,  juga benci

 Aku melihat sosok yang  sedang menunggu

Menunggu, menunggu dan terus menunggu

Aku melihatnya di setiap waktu

Suatu saat akan aku tanyakan 

Itu kah kamu? Kamu kah yang menungguku

Seandainya benar,  aku ingin kamu tahu

Bahwa selama ini aku juga mencarimu


Setelah sekian lama kita berpisah

Aku kembali bertemu seseorang yang tidak ku kenal

Tapi jantungku berdebar saat kita berpapasan

Kamu bertumbuh besar hampir tidak aku kenali

Tidak seperti kamu yang aku lihat saat pertama bertemu

Aku kembali di hari terahir sebelum kamu pergi

Seseorang berkata kamu akan pergi dan tak kembali


Ada rasa pedih dan menyesakkan dada

Namun aku sadar aku ini siapa 

Setelah mendengar tentangmu bahwa kamu itu siapa

Tak ada yang perlu di pertanyakan

Aku menahan diri untuk tidak datang

Hingga kamu pergi untuk selama - lamanya


Aku ingat saat aku menemukan mu dalam dunia maya

Menemukan catatan - catatan suara hatimu

Indah. Ku baca dan ku baca lagi seterusnya

Ku ingat dan ku ingat lagi setiap katanya

Ku buka dan ku buka lagi lalu ku simpan

Dari hari ke hari dari waktu ke waktu

Ku kembali teringat pertemuan pertama kita

Persis seperti yang kutulis di diaryku

Ada rindu yang menyeruak menyesakkan dada

Haruskah ku pertanyakan atau kulupakan

Aku menyimpan namamu sejak kita bertemu

Sampai kita berpisah sampai aku kehilanganmu

Sampai menemukan mu kembali 

Sampai kamu tidak mengenaliku lagi

Sampai  membuatku terjatuh lagi

Sampai bertahun - tahun aku lalui

Hanya untuk mengenang dan merindukan

Saat saat dimana kamu masih mengenaliku

Sampai kapan harus begini

Tanyaku pada diri sendiri 


Sampai belasan tahun lamanya aku menunggu

Agar kamu sadar dan mengenali siapa diriku

Atau mungkin aku yang tidak tahu diri

Yang mengharapkanmu untuk melihatku lagi


Begitulah seklumit kerinduan yang ku ingat

Bahwa kamu pernah menjadi orang pertama

Yang tinggal bersemayam di hatiku

Sialnya dari waktu ke waktu 

Aku mencoba mencari pengganti mu

Tak ada satupun yang sepertimu

Kala itu aku bertanya hanya ingin memastikan

Apakah ini hanya imajinasi ku saja

Atau ada hal lain yang membuatmu bersembunyi

Setidaknya semua bisa di bicarakan 

Mau dan harus bagaimana

Sampai aku memutuskan mengambil langkah

Untuk melepas namamu, melupakanmu

Dan menganggap ini tidak pernah terjadi

Jiwaku gersang kering kerontang

Aku rapuh lalu terjatuh sebagai patahan ranting

 Suatu hari angin berhembus kencang

Dan tak bisa menyembunyikanku di balik dedaunan

Aku bisa apa yang sudah tak berdaya lagi

Tak bisa ku cegah atau ku tolak meski sudah berteriak

Jika ada orang datang memungut patahan ranting itu

Dan menanamku menjadi pohon rindang


Karena kamu bilang 9 tahun yang lalu

Ada seseorang yang kamu inginkan

Namun sayangnya harus di lepaskan

Tepat setelah aku menjadi milik orang lain

Aku jadi teringat seseorang yang membuatku

Pertama kali mengerti apa itu rasa rindu

Di kisah ini ku tuliskan semua ingatanku

Aku ingat pertama kali aku melihatmu

Aku ingat bagaimana aku kehilanganmu

Aku ingat pada akhirnya aku harus pergi

Jika awalnya aku yang memulai

Jika ini hanya sekedar imajinasi ku saja

Jika semua ini adalah kesalahanku

Maka biarkan aku pula yang mengakhirinya

Hai kamu jangan menyesal jangan bersedih

Ingin sekali aku membelai wajahmu dan berkata

"Kamu tidak sendirian, ada aku"

Setidaknya kita sama - sama berjuang 

Ketika semua hanya sebatas kenangan bukan?


Izinkan aku mengenang mu untuk terahir kalinya

Lalu melupakanmu untuk selama - lamanya

Dengan menyuratkan ingatanku agar abadi

Berharap suatu hari kamu bisa tau pesanku ini

Agar jika tiba saatnya di hari aku benar - benar lupa

Surat ini bisa menjadi pengingatku dan kamu

Tentang kesalahan terindah yang tidak kusesali

Mulai hari ini aku berjanji akan bahagia dengannya

Karena aku yakin suatu saat akan datang padamu

Seseorang yang mampu melindungi sayapmu

Mewakiliku untuk membelai wajahmu saat kamu lelah

Seseorang yang mampu menjadi pelipur laramu

Mengingat itu aku tenang dan bahagia


Wahai kamu sang pangeran bersarung

Wahai kamu sang ahli qur'an

Datanglah sebagai panutan umat suatu saat

Yang dapat membinaku dan semua umat

Mengayomi dan membimbing kami

Untuk bisa mencintai dan mengamalkan al qur'an










Komentar