Sejak kakak saya meninggal 8 th yang lalu.
Sejak itu pula saya menyadari bahwa kematian ada di sekitar kita setiap saat.
Sejak itu pula saya baru menyadari, yang selalu saya rasakan gejalanya sama seperti apa yang di rasakan kakak saya.
Sejak itu hidup saya seperti dalam jeruji.
Sejak itu pula ibu saya jadi pemurung, seperti tidak mampu menerima kenyataan atas kepergian anaknya.
Ibu menyelamatkan anak orang lain, anak sendirilah yang terlepas.
Sejak saat itu, keheninganlah yang menemani saya.
Bisa di katakan, saya lebih mampu memahami keheningan dari pada memahami orang lain.
Sekalipun orang terdekat saya.
Kamu tau?
Keheningan memiliki banyak tingkatan.
Dari keheningan yang dapat membuatmu mendengar suara daun yang bergerak pelan.
Mendengar suara hembusan angin yang begitu sendu.
Mendengar suara serangga yang mengepakkan sayapnya sebelum fajar.
Mendengar bunyi jam yang berdetak.
Mendengar bunyi detak jantung.
Ataupun nafas yang terhela.
Bahkan desahan sekalipun.
Yang terakhir mendengar suara hatimu.
Tetapi dari kesekian keheningan yang dapat saya rasakan.
Satu yang saya ragukan dan tak pernah berharap ia akan hadir di antara keheningan.
Yaitu mendengar bisikan orang yang sudah tiada.
Karena itu saya benci hening.
Ketika semua menjadi hening,
Sunyi yang membunuh perlahan - lahan.
Sepi yng merenggut dari dalam.
Mereka sedekat bayangan kita.
Itulah hening.

Komentar
Posting Komentar