Langsung ke konten utama

RENCANA ALLAH ITU INDAH

Iseng bikin cerpen wehehe!

Aku terdiam sejenak saat kucing itu memandangiku saat hendak membuka kunci pintu. Entah apa artinya, apakah ia merengek minta makan atau kasian melihat keadaanku, yang jelas aku tidak peduli. Lalu aku balas memandanginya sejenak sambil berceloteh.
“Apa lo liat – liat?” tantangku tanpa aku sadari.
Setelah pintu terbuka aku membuang muka dengan sinis dan berlalu begitu saja. Setiap hari berulang – ulang seperti ini.

Pagi, sore, dan malam setiap kali aku terlunta – lunta tanpa tenaga merangkak , terseok - seok menuju pintu kossanku sepulang kuliah. Kucing itu selalu ada dan menatapku seperti biasa sambil menertawakan keadaanku sambil bersinggasana di atas kursi rotan yang ada di depan kamarku. Tiba – tiba mulutku langsung bergerak tanpa aba-aba.

“Diem lo kucing! Gak usah juga liatin gue kaya gitu. Gue gak buttuh di kasihani!” celotehku lagi sambil berlalu lenyap di balik pintu.
Tetanggaku cekikikan merasa aneh dengan tingkahku.Memang benar lama – lama aku merasa gila. Hingga matahari terbenam sampai terbit lagi kucing itu selalu bertengger di atas kursi itu setiap aku membuka pintu.

Antara muak dan bosan menjadi satu akhirnya aku pura – pura mendongak ke jendela yang terletak di sebelah kanan depan kamar, lalu mendekati kursi itu dan gubraaak! Kursi itu aku balik hingga tengkurap dan akhirnya yang tadinya si kucing baru saja singgah di kursi langsung terhentak melompat sambil mengaum dengan bahasa “waooork!” bukan meong lagi! sungguh. Itu tandanya dia benar – benar marah. Sempat terbesit dalam pikiranku dari manakah dia belajar bahasa baru sampai – sampai bunyinya bukan meong lagi?.

“Makanya bayar pajak kalo mau berkuasa disini!”, ledekku. Kucing itu hanya melotot sambil menggeram.
Hari - hariku sungguh membosankan, setiap saat selalu ada hal baru yang harus dikuasai dalam waktu singkat. Dan aku tau bahwa semua itu di luar kemampuan. Ketika kesalahan terjadi dan harus tau di mana letak kesalahanya lalu memperbaiki di situ aku frustasi dan terngiang – ngiang selalu pertanyaan – pertanyaan keluargaku, “apa yang membuatmu sampai berambisi seperti ini? Siapa yang menyuruhmu bekerja? Apa gunanya mengejar tittle? Dan masih banyak lagi pertanyaan maupun permintaan mereka yang membuatku down. seakan ingin lepas saja apa yang ku genggam. Pada akhirnya pekerjaanku terganggu oleh studyku, atau sebaliknya.
Tak seorangpun mau mengerti sekalipun diriku sendiri. Aku bingung, sepertinya bukan tittle yang aku inginkan. Sepertinya bukan ingin mengejar karir yang membuatku bertahan. Sepertinya anggapan merekalah yang salah karena aku tidak merasa berambisi. Tidak ada yang aku inginkan. Bahkan tujuan hidup pun asal mereka tau sampai sekarang aku belum menemukannya. Aku pikir dengan menjalani saja yang ada lambat laun  bisa tau apa yang di tuju dan akan menemukan jalannya. Ternyata tidak. Penggalannya ada yang salah.

                                                     ***

Kami berbaris layaknya aparat harus  terlihat tegas dan berwibawa di depan operator. Meskipun sekedar berjalan sendiripun harus agak mendongak dengan tatapan sinis melewati mereka. Sekiranya begitulah pekerjaanku. Pernah sesekali aku mencobanya di depan cermin, seperti mendongak, berbicara sambil melotot, atau bersikap sinis di depan cermin. Yang ada tiba – tiba mulutku terasa pahit, jeleh, muak intinya pingin muntah! Hoekkk.
Sungguh membuatku tidak mengerti kenapa harus begitu. Setiap waktu harus mampu menanggapi, berkomunikasi, bergaul, dan memberi keputusan antara chieft, manajer, direktur, dan supervisor – supervisor. Ketika itu kami merasa keren dan menambah rasa sombong bagi mereka para QC IN LINE yang membanggakan posisi mereka, tapi menurutku sama sajalah. Sebenarnya sudah seharusnya akupun begitu. Karena hal ini adalah perisai bagi para QC. Dengan kesombongan yang ini mereka dapat lebih mudah membantai operator yang slewengan dan coba – coba tidak patuh bahkan menentang apa yang mereka perintahkan. Oleh karena itu operator – operator biasa menyebut kami ‘polisi line’.

 ***

Bel istirahat berdenting seperti lagu dari kotak musik. Dentingannya menggiring mereka ribuan manusia berhamburan menuju pintu exit 3 sebelah barat gedung ini. Dan aku merasa aku adalah boneka yang berputar – putar di gedung ini yang aku anggap sebagai kotak musik raksasa. Ya aku hanyalah boneka yang di mainkan beberapa atasan. Dan tidak selamanya akan seperti ini. Karena akan aku tegaskan bagi siapapun yang menanyakan apa gunanya sekolah tinggi - tinggi bahwa umurku tidak ingin aku habiskan dengan status karyawan. Tetapi menjadi president di perusahaan itu sendiri. Mungkin ini dia alasan studyku, atau mungkin bahkan tidak. Sama sekali.

Kami berdesak desakkan mengambil makanan dan minum. Kali ini aku lebih awal sampai di kantin. Setiap satu meja panjang akan di isi oleh mereka yang posisinya setara. QC dengan QC, operator dengan operator, lalu atasan dengan atasan. Jarang sekali beberapa dari mereka ada yang terlihat bersatu dalam satu meja. Bahkan pernah dulu saat aku satu meja dengan operator semua teman  qcku bertanya – tanya. “ kok mau si makan bareng operator?” atau celotehan murah seperti “ vita kan lebih klik sama operator” celetuk ka Naya sedikit tertawa.

Tetapi untuk bergabung satu meja dengan qc lain pun rasanya ogah.  Dan mengingat kejadian kemarin saat teman – teman operatorku mulai mengintrogasi studyku semakin hari semakin dalam. Tetapi mereka tidak tau pertanyaan itu membuatku tidak  nyaman.

“Jadi kamu masih sekolah ta!”, temanku yang terbiasa memanggilku tata shock.
“Sssst! Jangan keras – keras takut Bu Khansa dan Bu Jadis tau”, timpalku gelisah.

Teman – teman tak mau kalah, ada yang memberi masukkan ada yang selalu menyemangati, ada yang selalu kepo tanya a – z tetapi ada juga yang berujar  negative.

“ Buat apa sekolah tinggi – tinggi toh? Kita kan cewe ujungnya jadi penghuni dapur yo opo ndak?”.
“Kerja ntu tujuannye dapetin duit ta buat di tabungin, lah lu malah di buang – buangin buat sekolah. Ape gunanye jadi sarjana coba kalo gajinye same aje kayak kite - kite ini”.
“Elu mah TK aja kaga lulus Liss, bagus tuh Vita semangat jadi penerus bangsa”.
“Apaan si ka, ntu rahasia Negara. Jangan buka kartu di marilah”.
“Hahahaha” mereka tertawa bersama serempak.

Aku masih terdiam, dalam batinku ‘bodo amat’.
Tapi sungguh ironis, di garmen sangat primitive. Sampai – sampai diskriminasi masih terlalu kental disini. Seakan – akan keprofesionalan yang seharusnya mampu menempatkan kapan harus tegas kapan dan dimana kita dapat  tertawa tidak berlaku di sini.

Hanya dengan mereka aku bisa mengalihkanku dari tekanan batin pekerjaan. Sayangnya semakin aku terlihat akrab dengan mereka semakin atasan menganggapku memihak kepada operator setiap perihal kinerja. Bahkan terlihat sedikit tertawa atau berbicara sedikit dengan operator saat di dalam pekerjaan poin kinerjaku langsung di turunkan berapa persen.
Akhirnya demi posisiku aku terpaksa menjauh dari mereka. Dengan berat hati aku mencari meja lain yang biasa di penuhi oleh para QC. Dan ternyata masih kosong. Aku terlalu cepat datang.
“Halo vit”, sapa ka Rhea salah satu Adm. sewing, sambil meletakkan makananya. Meja - meja lain di kantin ini masih agak kosong tapi entah kenapa aku lebih nyaman di sini dan malas untuk berpindah.
“Halo ka Rhe”, senyumku semanis mungkin.
“Tumben kamu di sini?”.

Aku berhenti mengarahkan sendok makananku saat aku menganga. Sebenarnya aku agak tidak mengerti apa maksud pertanyaan ini. Tapi ya sudahlah senyumin saja. Ka Rhea sempat mengajakku bercakap –  cakap menjelang makan sambil ia membuka bungkus makan. Aku memutuskan untuk minum terlebih dahulu.

Hampir satu botol aqua dingin ini habis ku tenggak, ternyata tidak hanya terlalu lapar tetapi aku juga terlalu haus. Aku berhenti mendongak dan menutup botol tiba – tiba mendapati meja ini sudah penuh dengan supervisor – supervisor beberapa line dan satu lagi salah satu chieft sewing duduk dan makan satu meja denganku . Sepertinya ini yang di maksud pertanyaan ka Rhea barusan. Ternyata meja yang biasa di tempati senior – seniorku di pojok sebelah kanan. Aduhh. Tiba – tiba nafsu makanku menghilang entah karena kembung air atau karena salah meja. Entahlah yang jelas aku tidak jadi lapar.

                                                ***

Akhirnya hari Kamis yang aku tunggu – tunggu datang juga, kebetulan hari ini aku pulang lebih awal. Tidak ada kuliah malam, tidak ada belajar kelompok, tidak ada tugas dan tidak harus lagi menulis laporan QC, hatiku sedikit sedih mengingat hal terakhir ini. Semenjak aku terlihat tertawa dengan operator, aku langsung di pindahkan ke bagian panel – panel. Ceking potongan demi potongan baju yang hanya terdiri dari beberapa proses. Semua laporan di tanggung oleh QC LINE itu sendiri.

Otomatis untuk beberapa minggu ini aku tidak harus memikirkan laporan sama sekali. Dan aku sudah mempersiapkan kaset  salah satu film favoritku dulu yang aku temukan sekilas saat melewati toko kaset. Flight plane! Girangku dalam batin sambil berjalan cepat menuju kossan. Aku lupa satu hal. Kelas online minggu ini belum aku kerjakan padahal tenggat waktu besok minggu pukul 12 malam. Ah sudahlah toh ada hari Sabtu ini yang libur.
Sesampainya di kossan aku melihat
kursi itu kosong. Entah kemana perginya si kucing, aku tidak peduli.

Hari ini adalah kesempatanku bisa mandi sore selain hari weekend.
Hari demi hari berlalu si kucing pun kembali, aku pikir dia sudah di buang jauh jauh oleh tetanggaku, tetapi sepertinya mustahil mengingat semua tetanggaku lebih pro dengan kucing itu bahkan sudi menyisakan lauk mereka demi si kucing. padahal tadinya ketidakberadaanya membuatku girang. Ternyata ia hanya pergi sesaat dan pulang dalam keadaan hamil.
Tetanggaku yang biasa menyisakan kepala ikan untuknya sangat bersyukur melihatnya kembali. Ia boleh saja senang dengan kembalinya kucing ini karena halaman kamarnya tidak di kuasai oleh kucing biadab ini. Awas saja kalau sekali saja membuang kotoran di sini bakal aku giring dia ke planet lain! Bila perlu ke alam baka.

          ***

Wuushhhh..! Di ujung senja yang sayup oleh semilir angin anak – anak  masih asyik bermain sepatu roda dengan ceria sampai keringat membanjiri dahi mereka. Mereka mendorong sepatu roda mereka di atas trotoar, satu persatu kaki maju selangkah demi selangkah dengan kecepatan semaksimal mungkin, ketika hampir di ujung jalan mereka berhenti melangkahkan kaki mereka dan membiarkan roda - roda itu berputar dan berjalan dengan sendirinya. Membawa raga mereka sampai ujung jalan itu.

Kemudian mereka berbalik dan mengulangi gerakan itu berkali - kali. Aku dan temanku duduk manis di tepi jalan, di atas trotoar yang lebih tinggi. Entah apa yang sedang aku lakukan dengan temanku di sini, duduk penuh misteri sambil menikmati pemandangan sore yang yaaah sebenarnya tidak terlalu kami nikmati. Intinya aku hanya ingin dia tidak terbawa masalah besar yang sedang ia hadapi. Apapun itu, aku tahu yang pasti jika waktunya sudah tiba untuk menjalani hidup di atas bahtera pasti akan mengalaminya juga.
Di pertemukan dengan badai cobaan seperti yang ia hadapi disetiap kehidupan tidak bisa dipungkiri, meskipun beda cerita nantinya. Yang pasti suatu saat aku pasti akan mengalami, bukannya berdoa yang tidak-tidak tetapi memang sudah hukum alam bahwa hidup tanpa cobaan itu mustahil. Karena cobaan – cobaan itulah hidup berlangsung ke tingkatan level berikutnya hingga sekarang. You know lah? Life must go on...setdah! Teuing ah.

Kadang aku kurang peka memang, tidak terlalu simpatik dengan setiap apa - apa yang ia keluhkan, lebih tepatnya tidak peduli. Yah untuk yang ini, sekarang aku akui suwer tak kewer kewer. Itu semua terjadi bukan karena aku menganggapnya tidak penting dan tidak ada untungnya untukku ikut campur urusan orang lain. Tapi memang semata - mata aku takut salah dalam memberikan masukan yang mungkin aku pikir adalah titik terang, tetapi bisa saja malah menjadikan sebuah lubang sumur yang menjerumuskannya nanti. Yaaa mau gimana lagi belum nyampe sih levelnya eyaaaakz.

Karena itu sewaktu -waktu aku bersikap acuh tapi dalam hati selalu berharap semoga cepat ditemukan jalan keluarnya. Tapi aku sudah agak lega karena ternyata temanku yang satu ini sedang menggebu -gebu ingin menjadi seperti mba asma nadia.

Sehingga ketika suntuk melanda, biasanya dia mengajakku gentayangan kemanapun yang ia inginkan, dan bedanya akhir - akhir ini adalah novelnya mba asma tadi selalu ia bawa. Tidak boleh absen dari tangan! Tekadnya menggebu. Meskipun entah bakal ia baca atau tidak nantinya, pokoknya aku mah terserah deh.

Sambil duduk menikmati sore, kami masih memandang kosong ke arah anak – anak  itu yang masih asyik bergonti - ganti trik dalam permainan sepatu roda mereka. Terkadang mereka bersatu bergandengan tangan dan berjalan bersama beriringan sambil tertawa geli bahkan cekikikan, ada juga yang raut mukanya agak takut mengernyit. Seperti ekspresiku ketika ada suntik imunisasi waktu SD dulu ( wakwawww kamu ketauaan! ).

Disini bedanya anak itu pucat karena tidak percaya atas kampuannya. Lalu mereka bergandengan tangan dengan erat dan melangkah maju bersama. Terkadang mereka berbaris saling berpegangan di pinggul temannya satu sama lain dan meluncur bersama di atas trotoar yang lumayan luas dan sepi ini, menari dengan lihai seperti api lilin yang terlewati angin dan kompak berbaris seperti kereta api. Sementara temanku yang sedang sibuk memahami kalimat demi kalimat khusyuk memfokuskan pandangan ke dalam novel, sesekali ia menengok, lalu berceloteh tetang dunia menulis dan segala tetekbengeknya pun ia bahas, aw aw aw.

Entah apa yang dia katakan aku sudah berusaha mendengarkannya tapi apalah daya. Aku tidak sehebat dia yang jikalau ada sesuatu kecil saja yang melejit - lejit di otak lalu selalu kehilangan titik fokus. Sehingga apapun yang dibicarakan tidak terdengar jelas ditambah lagi suara dedaunan yang menari - nari di hembus angin. Sehingga seluruhnya di sekitarku jika dipadukan akan terdengar seperti kaset tip yang pitanya sudah semrawutan. Kamu tau kaset tip? Apa baru denger? Oh berarti kamu CUMA anak kemarin sore hahaha.

Jujur sebenarnya aku benar - benar nihil kalau soal dunia menulis. Hal yang temanku bahas ini benar - benar susah dicerna otak dangkal sepertiku. Atau mungkin memang telingaku yang belum terkoneksi sehingga semua hal yang ia jelaskan secara ascending benar  - benar berlalu seperti angin semilir sore ini. Entahlah atau memang otak dan hati yang sudah benar - benar lelah karena mempertahankan kedua mimpiku yang setiap saat selalu terjadi bentrok. Uniknya di setiap bicaranya selalu full ekspresi. Di barengi tekad yang membara, dann! Itu artinya dia bisa! Mengalihkah masalah seberat apapun karena dalam hidup ini ada Dzat Yang Maha Kuasa Atas Segala Perkara di dunia. Jadi untuk apa kita sibuk memikirkan sesuatu yang memang bukan kuasa kita? Toh kita cuma makhluk kecil lemah dan bodoh atas segala hidayah. Kata orang gitu hehe. Mak jlewbbb!.

Sementara pikirankku melayang jauh ke mimpiku dua hari yang lalu. Dan sekarang aku ingat, ternyata pikiranku kacau karena itu!. Batinku tersentak menyadari, spontan aku geleng – gelengkan kepala mencoba menyingkirkan hal itu dari benakku. Bukannya lenyap yang ada malah mendapati tatapan heran dari temanku tadi. MUNGKIN temanku ini berfikir aku sedang sakit kali. Serah loe jeck seraaaah!

 ***

#FLASHBACK
Hari itu adalah hari senin dimana seluruh QC In Line merapat menghadap SPV dan Chiefnya masing - masing. Otomatis QC In Line menghadap SPV QC itu sendiri. Yang akrab dipanggil 'Bu Khansa'. Seorang wanita paruh baya yang selalu terlihat elegan dengan lukisan alis di wajahnya, terlihat tajam dan tegas sehingga terlihat pas dengan tatapannya yang tajam. Ditambah lipstik merah tegas yang sepertinya tak pernah terhapus dari bibirnya, menambah daya kharismatik dari senyumnya yang manis tetapi juga menimbulkan siluet galak yang berpadu dengan alisnya itu.

Tapi percaya deh segalak - galaknya beliau masih galakan Bu Jadis yang sosoknya benar - benar sulit digambarkan. Soalnyaa gimana yak, setiap dengar nama beliau yang pertama kali muncul di otak hanyalah bayangan tyrex. Ups. Ehm.. Jd lebih baik ga usah di diskripsikanlah, Okeh forgetted! Back to laptop.

Kami biasa menyebut pertemuan ini
dengan 'meeting rutin' disetiap senin pagi. Atau kala waktu jika memang muncul masalah serius di dalam line, dan ini adalah moment paling lebayyy sehari bisa meeting sampe lima kali.

Namun, aku lebih suka menyebutnya forum jangka pendek yang membosankan dan bosannya sungguh menyiksa sampai hampir matiii huhuhu tuh kan! Tak bosan - bosan membahas hal yang sama dan selalu di bahas setiap hari hufht!. Suasananya persis seperti jajaran polisi yang sedang apel. Apeh? Apel malem minggu? PLAKK! (Maaf baper lagi hiwhiw).
" ...bla ba bla^*&/$₩£×}》$@&/$$¥££÷÷>{>》《_》¿`~}]}=£_×+÷^@&8 seharusnya tidak usah di tegur juga kalian udah tau laporan emang tugas wajib. Udah kerjaannya kenapa lagi - lagi harus diingatkan?, apa - apa harus di tegur? Contohnya mocap, setor buku ke korea, laporan sampah. Kalo ditegur baru dikerjain. Semua laporan penting loh yah Dialy Report, Needle Hole Report, Mocap, Sizepack Report, Laporan Permak, Laporan Minyak, Laporan Sampah, dan bla bla bla ble ble bleeeeh $&@&@/$!^@*#($(&@^/'"-^@?;!(;@ @_@....,"

Entah pas sampai mana otakku langsung gagal fokus. Teringat ceramah Bu Khansa minggu lalu. Setiap laporan harus dikerjakan setiap jamnya. Harus disiplin, akurat, obyektif, real, disertai bukti. Nah loh buktinya itu loh bagian yang rumit. Serumit makna cinta yang sering aku dengar. Nyari bukti laporan sama halnya mencari kesalahan operator. Kadang kalau memang operator ga ada yang bermasalah ya laporan alakadarnya. Paling ujung - ujungnya Bu Khansa protes.
"kok kosong laporannya?!" Tanya beliau shock ( = baca panic in the disco ).
"Emang ga ada yang bermasalah bu," celotehku.
"Berarti maksud kamu semua yang kamu ceking udah mirip sample?!" Timpalnya tegas.
"Enggaaaa. Tapi kalo hari ini emang ga ada masalah mau gimana lagi, kan dosa bu nyari - nyari kesalahan orang lain", ujarku polos tanpa dosa (eeyaaaaKz!).

Mendengar jawabanku itu beliau langsung mendesah berat karena sudah kehabisan akal menjelaskan bahwa QC itu kerjanya memang mencari kesalahan operator. Kalau tidak menemukan masalah berarti QC tidak bekerja dengan baik sesuai prosedur yang sudah ditentukan dan agaknya beliau bingung membedakan apakah memang aku yang terlalu polos apa jangan - jangan ni anak blo'on?. Entahlah sepertinya dua - duanya, syaaaaaah!.

Akhirnya beliau berlalu pergi dan secara reflek aku tertawa geli di bawah kolong jembatan. (Engga ding! Maaf pemirsah imajinasiku mluber jadinya.) Selain itu seluruh laporan harus selesai setiap jamnya, menggunakan bahasa inggris baku seperti United Kingdom English mungkin, tidak berbelit dan omegatt semuanya ditulis tangan! Yang lebih mengerikan adalah wajib memakai pensiiiiiiil huaaaa huaa huhuhuu hikz!. Ini adalah kendalaku karena pada dasarnya tulisan tanganku terlalu keren sampai tidak ada bedanya dengan tulisan dokter. Padahal laporan dituntut rapi tanpa ada coretan sedikitpun (real facts). Sungguh perjuangan dan derita tiada akhir.

Masih belum berakhir sampai disini, chapter selanjutnya laporan harus ditanda tangani oleh beberapa atasan yang sulit dicari dan pas ketemu, mereka sibuk enggan untuk diusik. Pernah sekali dua kali ketika laporan telat atau terlalu awal kadang atasan tidak sudi untuk sekedar mengACC. Garmen tidak sesimple di kampus tapi terkadang sebanding 11/12.

Ketika atasan berkeliling seperti SATPOL PP hendak merazia, entah dari mana dan kapan datangnya beliau kadang sudah exist di samping dan.. Tunggu sebentar, sepertinya lebih tepat jelangkung maybe. Kemudian beliau meminta map menyerupai buku folder itu dariku dan mulai mengobok – obok report dengan khusyuk sampai ikannya pada mabok. Tatapannya menajam membuat jantungku mulai berdetak tak beraturan. Was - was takut seperti QC In Line lain yang kabarnya laporan dia dirobek karena selalu berantakan. Deg deg!.

Lamunanku agak buyar, karena hati ini bertekad " ah sudahlaaaah, jangan terlalu dipikir. Seloww ajee" batinku. Suara bu dwi lambat laun mulai menggema ke seluruh ruangan dan kembali normal membuyarkan semua lamunanku tentang kejadian – kejadian yang sudah berlalu itu, artinya pikiranku sudah kembali fokus ke pembicaraan beliau di rapat rutin senin pagi ini. Dan kau tau? Aku baru saja kehilangan beberapa point penting dalam rapat ini coeggg.
"... Perhatikan juga ya Worksheet, Material Card, dan List Comment – Comment-an yang sudah approvided dan sudah dibagi harus rajin dibaca jangan buat simpenan doang. Kalo gitu mah sekalian aja dimusiumin. ya neng!.." tegas Bu Dwi diakhiri dengan sebutan neng!. Sebutan neng biasanya hanya tertuju padaku.

Julukan itu muncul setelah semua orang menanyakan umur dan tahun lulusan, dan menganggapku QC paling muda dan pada akhirnya disebut ‘si bontot’ oleh semua senior. Aku tersedak baru sadar sedari tadi tatapanku mengarah kearah pintu ruang sample. What?? Batinku, reflex langsung mengalihkan pandangan ke beliau, kebingungan dan merasa bodoh. Sesekali menunduk atau berusaha bersikap biasa saja.
"Kamu paham ga yang di meetingin pagi ini?" Tanya bu dwi mengintrogasi. Waduh gaswat jangan - jangan kalo jawab iya nanti ditanyain poin - poinnya lagi!, batinku. Tanpa berpikir panjang akupun menjawab.
"Ya. Paham." Ucapku setegas mungkin tapi tanpa menatap langsung ke mata beliau. Alias kosong.
"Jangan bengong loh ya. Harus bener - bener dipahami. Ya sudah mari kita akhiri meeting pagi ini dengan doa sesuai kepercayaan masing - masing." Hufht! Legaaaaa!

               ***

Aku melirik arloji di tanganku berkali- kali. Hari sudah sore, sebentar lagi waktunya pulang. Akhirnya aku melirik lagi mungkin ratusan kali sudah, kemudian aku mengangkat tanganku dan melirik arlojiku lagi. Ah! Ribuan kali sudah. Sepertinya aku tidak tahan, setiap detiknya ingin sekali aku perhatiakan bahkan setiap gerakan jarumnya. Lama – lama aku bisa gilaaaaa! Batinku sambil menutup wajah kemudian membantingkan tangan di atas map. Sekilas operator di depanku tersentak, agak aneh memang.

Tapi syukurlah dia tipe orang cuek.
Aku sudah bosan untuk kabur lagi, tidak ingin seperti ini seterusnya. Tiba – tiba tekad dalam benakku membulat, mendorongku kuat untuk menyatakan sejujurnya kepada atasan.
Bu Khansa belum nampak sepertinya masih di office pikirku. Bu Jadis sedang sibuk meneliti masalah – masalah dalam line dan memberi kommenan kepada supervisor sewing. Aku menghela nafas sejenak. Tak ada pilihan lain, sepertinya lebih baik izin langsung ke Bu Jadis. Tapii.. tanpa melalui Bu Khansa terlebih dahulu itu artinya tidak sesuai prosedur. Haduh, aku berjalan bolak – balik seperti arah arus listrik AC. Bingung mendadak. Atau sebaiknya kabur saja pas jam pulang pertama? Pikirku sambil berjalan bolak – balik dengan telunjuk di jidat.

“Vita!! Teriak Bu Jadis melihatku meninggalkan line. Dan bertingkah seperti orang sakau. Tatapannya tajam seperti bola mata itu ingin jatuh menggelinding di lantai. Tandanya ia ingin aku menghampirinya. Aku menduga pertanyaan pertama beliau pasti di awali dengan kalimat “kenapa kamu ada di sini?” Dan akan di lanjutkan dengan kalimat “Emang kamu masih belum jelas kalau line kamu pulang jam ke dua?” pikirku. Aku memberanikan diri, dan menghampiri beliau untuk berterus terang.
“haa Sttt! Sssst!” timpal beliau sambil mengoyang – goyangkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan. “ibu sudah tau apa yang mau kamu bicarakan, mau izin lagi kan?” tebak beliau tersenyum sebelum aku belum sempat berucap sama sekali.

Aku sedikit gugup dan mengangguk, namun senyuman beliau tak berpengaruh sama sekali untuk mengurangi kegugupanku.
“Gak bisa, maaf. Ya sudah balik kerja lagi sana!”
“Tapi bu”.
“Sudah jelas jawabannya vita!”
Aku masih diam di tempat, mencoba merangkai ulang kalimat – kalimat yang sudah aku rangkai jauh – jauh hari. Percumalah terlanjur buyar.
“Ibu bisa bantu masalahmu di dalam line, kecuali untuk urusan pribadi seperti kuliah kamu itu” ucap Bu Jadis seperti mampu membaca pikiranku.

Dari mana beliau tau? Sejak kapan?
“Dengar Vita, senior – senior kamu saja susahnya minta ampun untuk di beri izin. Apalagi kamu belum genap satu tahun. Yang ada mereka mengira ibu mengistimewakan kamu. Ibu ga mau yah kaya gitu”, baru kali ini Bu Jadis berbicara tanpa nada hentakan. “Sebenarnya ibu gak melarang kamu kok untuk kuliah, asalkan tidak mengganggu pekerjaan.

Kalau bisa kamu atur waktunya kuliah kamu yang ngikutin jam kerja. Kamu itu beruntung di sini, masih baru di kasih lembur terus. Biar dompet kamu tuh tebel. Bisa buat tambahan biaya kuliah. Seharusnya bersyukur karena dapet lemburan itu cuma orang – orang pilihan. Bukan malah kabur tanpa tanggung jawab!” jelas Bu Jadis di akhiri dengan nada tinggi. Beliau yang tadinya tidak tau apa – apa, bisa tahu segalanya seperti ini dari siapa?, Batinku bingung.

Dan asal kamu tahu tidak ada satupun perusahaan yang mau karyawannya berkonsentrasi di bidang lain. Kecuali yang dia ambil tidak mengganggu pekerjaan sekalipun. Dan ini kesempatan terakhirmu kalau kamu izin lagi tidak ikut lembur apalagi kabur, silahkan kamu kerja di perusahaan lain. Sekarang silahkan pilih, terserah kamu mau pilih pekerjaan kamu apa kuliah kamu?” Ucap beliau menatap tajam.

Aku tidak percaya hanya masalah lembur hal sepele seperti ini, aku hanya menganga tak mampu menggerakan lisan untuk memberi keputusan saat ini, tiba – tiba mataku pedas. Wajahku terasa seperti di depan bara api, begitu panas bercampur keringat.

Kata demi kata terngiang – ngiang seperti sambaran petir di benakku, tiba – tiba di luar turun hujan deras mewakili perasaanku saat ini. Aku mencoba mengontrol diri untuk tidak terlihat sedih sedikitpun, dewasa dikitlah ta! Batinku.  Aku terpaku tak mampu bergerak dari tempat. Hujan semakin deras dan ternyata petir – petir beserta suara gemuruhnya memang nyata tidak hanya di benakku saja. Duarr! Suaranya menggelegar kuat hingga menggetarakan gedung ini.

Allaahuakbar AllaahuAkbar.
Suara adzan subuh membangunkanku, Alhamdulillah cuma mimpi! Atau baru mimpi yang mau tidak mau akan menjadi kenyataan? Pikirku. Rupanya di luar memang hujan deras. Aku masih teringat mimpiku barusan, kata – kata beliau masih terngiang. Ah sudahlah lebih baik segera ambil wudlu.

     ***

“Aaaaaaaarkkk”, teriakan anak kecil melengking di telingaku aku segera menoleh mencari sumber suara. Teriakan itu beradu dengan isak  tangis seorang anak balita yang dipaksa pulang oleh orangtuanya.  Tadinya aku pikir temanku yang berteriak, ternyata dia masih asyik membaca novel. Huft sepertinya aku baru saja melamun, kerjaan kali ini benar – benar menghantui kemanapun aku melangkah. Sekalipun di kampus.

Sore ini benar – benar kacau, aku masih bingung dengan pilihan yang tenggat harus diputuskan senin besok. Aku khawatir akan terjadi seperti yang di mimpi semalam. Ting! Otakku langsung terkoneksi, aku baru saja ingat mimpi semalam. Oh ya ternyata ini yang membuatku gelisah seperti orang linglung. Hilang arah.
“Ta.. aussss”, rayu temanku memelas.
“Sebentar yah”, jawabku beranjak. Dan kebetulan aku juga sedikit haus.

Aku kembali membawa dua minuman. Melihatnya asyik membaca novel menyadarkanku bahwa sebenarnya dia tidak benar – benar membaca. Sebenarnya ia hanya berusaha mengalihkan masalah saja.

Haruskah aku begitu? Aku sendiri sudah kehabisan kata lagi mengenai masalahnya. Masalah rumah tangga yang aku sendiri belum banyak mengecap garam dibandingnya. Selain menganjurkan untuk istikhoroh dan bersabar.  Kadang sesekali aku menyelipkan petuah kyaiku saat di pondok meskipun sebenarnya ia sendiri lebih mengetahuinya. Setidaknya memang apa – apa harus sesuai dengan ajaran agama bukan?

Aku sendiri bingung kenapa doaku belum juga terjawab, atau mungkin mataku buta dan telingaku tuli akan hidayah dan petunjuk Tuhan karena dosa yang terlalu banyak. Sudah berkali – kali istikhoroh sama saja.
“Bibib lain kali jangan di tinggal sembarangan sepatu rodanya”, ucap seorang wanita kepada anak perempuanya kisaran umur lima tahun.
“Ga apa apa ma, kan ada Allah yang jagain”, jawab gadis kecil itu dengan polos di depan kami. Dan hidayah tidak harus di sampaikan oleh seorang dai atau daiyah, tidak harus kita dapatkan saat acara pengajian atau kegiatan religi. Bahkan dari anak kecil sekalipun, jika kita mau membuka mata membuka telinga. Itulah hidayah yang sebenarnya kita butuhkan.

Aku tersenyum sejenak mendengar jawaban anak itu sebelum akhirnya matahari tenggelam dan kami pun kembali ke kossan.

         ***

Mereka supel, apa adanya dan sangat peka terhadap kesusahan temannya satu sama lain, Melda, Iin, dan ka Nata. Aku duduk satu meja bersama mereka. Di sebuah kedai somay dan jus di depan sebuah pasar dekat sekali lokasinya dari tempat kerja kami. Kami berempat duduk menanti jus dan somay pesanan kami sambil bermain HP dan menikmati pemandangan sore.

Sementara aku memandang trotoar di seberang jalan yang dulu aku duduk bersama temanku saat itu. Beberapa bulan yang lalu aku berada di pasar ini di waktu yang sama namun tempatnya tak jauh berbeda dengan teman yang berbeda pula. Mungkin sekarang dia sudah mendapatkan kembali kebahagiaannya yang dulu hilang bersama keluarga kecilnya. Berkumpul dengan suami dan anak tercinta, rumah tangga mana yang tidak mengharapkan kebahagiaan seperti itu.

Bahkan aku tidak ingat bagaimana ceritanya yang setelah itu membuatku benar – benar terjatuh karena harus melepaskan pekerjaan yang saat itu benar – benar aku butuhkan. Dan sudah aku perjuangkan yang menekanku harus bersikap keras terhadap operator – operator yang sudah paruh baya, atau bahkan sahabat sendiri ketika ia mendapatkan proses yang bermasalah. Terkadang ada yang menangis di bentak, ada pula yang kembali mengancam.

Selain itu laporan yang selalu menyita waktu makan siangku, waktu tidurku setelah selesai menyelesaikan tugas kuliah hingga larut malam. Semua itu membuatku menangis tujuh malam karena melepasnya begitu saja tidak percaya dengan keputusan Bu Khansa yang tidak mampu mempertahankanku, dan lagi ujianku yang jeblog, banyak absen yang kosong sehingga terpaksa IP ku selalu di bawah standard.

Meskipun Bu Khansa selalu mengatakan kinerjaku banyak mengalami progress hingga mampu menghandle style yang agak susah. Mulai sekarang jika ada orang yang memuji lagi, aku tidak ingin terlalu tenggelam dalam pujian itu. Bukan bermaksud menganggap bualan semua itu, tapi memang begitulah salah satu atasan memotivasi bawahannya untuk lebih semangat bekerja lagi.

Dan, fabi ayyi aa laa i robbiku maa tu kadzdzi baan? Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? Mulai saat ini tidak ada yang harus di khawatirkan lagi.  Hingga saat ini aku masih teringat jawaban anak kecil itu, bahwa sepatu rodanya tidak ada yang mengambil karena ada Allah yang menjaga, jadi sedalam apapun kita terjatuh aku tetap berusaha berpositif thinking kepada Allah. Pasti akan ada jalan terbaik setelahnya.

ternyata mengarang cerita tidak semudah yg ku kira wkwkwk
ni uda di posting mba upi dan cipoool

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Catatan Kecil Survivor

Ketika kelelahan mulai membunuh perlahan lahan. Seorang surviver tidak akan lagi menghawatirkan penampilan fisik yang nantinya tubuh mereka yang penuh jahitan, atau kerepotan orang lain karenanya. Satu hal yang sangat ia inginkan hanyalah melepas kesakitan yang lama mendera. Yang hanya ia pikirkan hanyalah ingin melepas kesakitan itu. Yang membuatnya menderita sendiri. Bahkan orang lain pun tidak akan mengerti keluhan yang ia sampaikan berkali - kali. Orang lain tidak akan mampu menopang sebagian kesakitannya yang sangat membebani.  Orang lain tidak akan paham apa yang mereka rasakan.  Sekalipun sudah berkecamuk dengan 1001 sumpah serapah, atau keluhan yang tak ada habisnya.  Orang lain hanya akan mendengar jeritan mereka sebagai sekedar bisikan. Mereka bisa apa?  mereka tau apa?. Maka mereka tidak akan mengerti bagaimana pilihan mati adalah pilihan terakhir yang paling indah. Hal yang mereka tau tentang pasrah hanyalah tabu. Orang lain tidak akan merasakan sedalam a...

SEBERANG SANA

Aku biarkan jendelaku terbuka Demi melihat senyummu di sebrang sana Aku biarkan musik menderu dan berdetak Mengalir dalam earphone yang tergeletak Ku petik gitar ini tanpa suara Di keheningannya menanyakan dirimu siapa Hatiku melejit jantungku seakan loncat Saat melihat senyummu setiap aku lewat Hanya buku ini yang mampu mendengar Puisi cinta hingga akalku tak lagi nalar Duhai bintang di langit kelam Nasihati aku agar tak tenggelam Temani aku bernyanyi dan duduk di jendela Menunggu santri menawan di sebrang sana Dengan al quran melekat di tangannya Seseorang yang aku piker berbeda Keluarlah engkau wahai tetangga Sedang apakah di sebrang sana Aku menunggumu di jendela ini Berharap kau berada di sini Aku tidak yakin dengan perasaan ini Ketakutan mengikatku di kamar ini Sumpah itu tidak akan aku ingkari Namun jiwa seakan terseret kata hati Aku hanyalah papa di banding dirimu Mungkinkah aku bermimpi di atas kesadaranku Bagaimana jika...

JATUH CINTA

Ketika kamu jatuh cinta Seketika kamu ingin menjadi dirinya Mulai dari warna favoritnya Gayanya, hobinya Film yang dia sukai Musik, apapun akan kamu tirukan Atau bahkan merasa memiliki banyak kesamaan dengannya Ketika kamu jatuh cinta Kamu akan mempelajari semua hal tentangnya Mengenalanya adalah hal candu bagimu Baik buruknya akan kamu telan mentah - mentah Bagaimana kabarnya, keadaannya Semua itu akan membuatmu teringat dia sepanjang waktu Ketika kamu jatuh cinta  Jarak dan waktu ingin sekali kamu bunuh Kemanapun, di manapun dan kapanpun Kamu ingin bersamanya Bila jauh kamu ingin menghampirinya Ketika kamu benar - benar cinta Bahkan kamu rela berkorban segalanya Jika jadi gila nyawapun rela di pertaruhkan Segala hambatan 1001 cara akan di lakukan  Agar kamu bisa mendapatkan cintamu Cinta adalah fitrah Yang tidak pernah kita rencanakan kehadirannya Kepada siapa, harus kapan, bagaimana caranya dan dimana Karena ketika kamu telah jatuh cinta Tuhan...